Search This Blog

Friday, October 14, 2011

Khalid bin Walid, Pedang Allah yang Terhunus

Khalid bin Walid (584 – 642) adalah seorang panglima perang yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai “pedang Allah yang terhunus”. Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang karirnya.

Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Awalnya Khalid bin Walid adalah panglima perang kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Pada saat Pertempuran Uhud, Khalidlah yang melihat celah kelemahan pasukan Muslimin yang menjadi lemah setelah bernafsu mengambil rampasan perang dan turun dari Bukit Uhud dan menghajar pasukan Muslim pada saat itu. Tetapi setelah perang itulah Khalid mulai masuk Islam.

Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka’bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka’bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.

Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka’bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju kedepan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, “O, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumahMu”.

Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam. Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani dimata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.

Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur-’an itu adalah kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan, bahwa dia tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu.

Ucapan yang terus terang ini memberikan harapan bagi Nabi, bahwa Walid akan segera masuk Islam. Tetapi impian dan harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Kebanggaan atas diri sendiri membendung bisikan-bisikan hati nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin bangsa Quraisy. Kesangsian ini menghalanginya untuk menurutkan rayuan-rayuan hati nuraninya. Sayang sekali orang yang begini baik, akhirnya mati sebagai orang yang bukan Islam.

Suku Banu Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, Banu Muhzum lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit.

Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih dibanggakan seperti Banu Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam dilembah Abu Thalib, orang-orang Banu Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.

Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti, ayah Khalid orang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang membentang dari kota Mekah sampai ke Taif. Kekayaan ayahnya ini membuat Khalid bebas dari kewajiban-kewajibannya.

Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak usah bekerja untuk menambah pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu ikatan memberi kesempatan kepada Khalid mengikuti kegemarannya. Kegemarannya ialah adu tinju dan berkelahi.

Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat.

Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang yang terpandang dimata rakyat. Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat, seperti ayah dan paman-pamanya. Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang yang dapat mengatasi teman-temannya didalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan dirinya kedalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya kedalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang.

Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang menakjubkan setiap orang. Dengan gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan menjadi ahli dalam seni kemiliteran.

Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi ahli militer yang luar biasa senialnya.

Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol diantara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat ber-berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat berdiri digaris paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajardan seirama dengan kehendak alam.

Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya kwalitasnya sebagai pekelahi.

Kekalahan kaum Quraisy didalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng dimuka orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang terjadi di Badar.

Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud.

Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Dibukit Uhud masih ada suatu tanah genting, dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai meninggalkan pos masing-masing.

Khalid bin Walid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahant-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang Islam.

Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka injak.

Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan.

Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas ditanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan.

Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang.

Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam dipusat pertahanannya. Melihat Khalid telah masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat.

Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disunglapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam.

Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang Quraisy.

Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematianya diatas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan kemauan-Nya.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Khalid diamanahkan unruk memperluas wilayah Islam dan membuat kalang kabut pasukan Romawi dan Persia. Pada tahun 636, pasukan Arab yang dipimpin Khalid berhasil menguasai Suriah dan Palestina dalam Pertempuran Yarmuk, menandai dimulainya penyebaran Islam yang cepat di luar Arab.

Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Khalid diberhentikan tugasnya dari medan perang dan diberi tugas untuk menjadi duta besar. Hal ini dilakukan oleh Usman agar Khalid tidak terlalu didewakan oleh kaum Muslimin pada masa itu.

(Sumber : Sunatullah.com)

Thursday, October 13, 2011

Procrastination Nite

sumber : http://suar.okezone.com/read/2011/10/13/58/514567/procrastination-nite

Banyak orang ingin tahu mengapa semakin banyak orang dari bangsa ini yang senang menunda-nunda pekerjaan. Jalan-jalan berlubang di kampung tempat tinggal saya, misalnya, kalau belum menjadi kubangan dalam belum ada perbaikan.

Kalaupun diperbaiki, kami semua harus menunggu sampai akhir tahun. Alhamdulillah, akhirnya Oktober ini lubang-lubang dalam itu sudah rata. Di Ambon, beberapa hari lalu seorang bapak menangis bercampur marah karena petugas PLN terlambat datang mengurus jaringan listrik yang bocor. Seorang anak kecil menjadi korban, tersetrum listrik dari air di bak mandi.

Di Medan, puluhan ibu-ibu mengamuk kepada petugas sebuah airlines di bandara, yang terkesan menggampangkan dan tidak cepat menangani keluarga mereka yang menumpang pesawat yang jatuh di lereng Pegunungan Bahorok. Media massa memberitakan, kalau cepat ditangani, kemungkinan besar beberapa korban masih hidup. Akhirnya keberangan publik semakin jelas menyaksikan lambatnya penyerapan APBN di hampir semua kementerian Republik Indonesia.

Seorang pejabat di Kementerian Keuangan pernah mengatakan, hingga akhir Februari lalu, anggaran pada 10 kementerian baru bisa menyerap 5%. Ini berarti mereka tidak langsung bekerja begitu DIPA diterima bulan Januari. Akibatnya, wajar kalau hingga Oktober tahun ini daya serap anggaran masih berkisar 50%. Ada yang bilang sudah sebesar 70%, tetapi banyak orang yang meragukannya.

Tapi, syukurlah, Anda hidup di Negeri Sangkuriang. Bahkan gedung-gedung olahraga yang sudah lama dianggarkan untuk pergelaran kompetisi SEA Games yang mencemaskan banyak pihak diramalkan akan jadi juga pada detik-detik terakhir. Selain Negeri Sangkuriang, Indonesia juga dikenal dengan tradisi ketok magic. Jangan tanya bagaimana caranya, pokoknya percaya saja.

Semua akan beres, selesai pada waktunya. Namun jangan tanya kualitasnya, apalagi check & balancenya. Sudah hampir pasti kerja seperti itu banyak masalahnya. Sepertinya ada masalah besar dalam business process di negeri ini, tetapi entah mengapa, walaupun sudah diperbaiki, tetap saja banyak masalahnya. Kalau prosesnya tidak tepat, apa yang bisa diharapkan pada hasilnya? Good process–great result! Nah kalau prosesnya saja sembarangan, bagaimana output-nya?

Prokrastinasi

Karena hal serupa terjadi berulang-ulang, sudah pasti pemerintah tahu apa yang menyebabkannya. Dulu, anggaran pemerintah baru bisa cair setelah bulan Juni. Perlahan-lahan diperbaiki menjadi bulan Maret dan sekarang sudah bisa dicairkan sejak awal tahun. Tapi masalahnya, mengapa bagian terbesar anggaran ini tetap dihabiskan setelah September? Bukankah ini berarti ”pikiran” aparat birokrasi belum berubah?

Sikap mental yang sering menunda-nunda itu dalam ilmu perilaku dikenal sebagai procrastinator (prokrastinator). Seseorang yang melakukan procrastination (prokrastinasi) punya tendensi mengganti pekerjaan-pekerjaan high priority dengan pekerjaan-pekerjaan low priority. Orang-orang seperti ini biasanya pencemas yang senang menunda-nunda pekerjaan. Prokrastinator mengatakan mereka bisa bekerja bagus dalam suasana di bawah tekanan (under pressure).

Nah dalam birokrasi yang lembek dan lamban, mereka mendapatkan pembenaran. Tapi jangan cepat-cepat percaya bahwa kerja seperti itu bagus. Ada ilmu yang mengatakan sebenarnya prokrastinasi adalah bawaan lahir (human nature) sehingga kalau tidak dibentuk, semua manusia akan menunda-nunda pekerjaannya. A sense of timelessness ada dalam masyarakat suku-suku tertentu, bahkan berlaku sampai sekarang.

Bahkan orang-orang Barat memberi label prokrastinasi kepada orang-orang Afrika sebagai African Time. Di Benua Afrika kebiasaan buruk tidak menepati waktu antara lain dibentuk oleh orientasi waktu polikronik, yaitu kebiasaan mengerjakan banyak hal sekaligus. Adapun di Barat, orang-orang terbiasa menganut budaya monokronik, satu program sampai tuntas.

Lantas dari mana sumber etika ketepatan waktu? Para ahli percaya, etika ketepatan waktu berasal dari seorang ulama Yahudi bernama Hilec (100 BCE) yang mengajukan pertanyaan seperti ini: ”Jika saya bukan untuk diri saya, siapa yang akan melakukannya bagi saya? Tapi jika saya hanya untuk diri saya saja, siapakah saya? Dan bila tidak sekarang, kapan?” Prokrastinasi atau menunda-nunda pekerjaan, tidak taat pada waktu, dianggap sebagai perilaku yang tidak etis, selfish, dan merugikan orang lain.

Di Barat, berlaku pepatah, ”If not now, when?” Kalau bukan sekarang, kapan? Pepatah ini membuat banyak pendidikan kepemimpinan mengarahkan calon-calon pemimpin untuk tidak menunda-nunda masalah. Masalah harus cepat didiskusikan, direncanakan, dan diatasi. Dalam ilmu manajemen dikenal istilah time management yang marak diberikan dalam berbagai workshop di sekitar era 1980-an. Bukan hanya sikap mental yang mereka bentuk, melainkan juga alat-alat pencatat (agenda kerja) banyak.

Stephen Covey bahkan membagi orientasi waktu manusia ke dalam empat kategori. Generasi pertama adalah manusia dengan alat bantu waktu (jam) yang berfungsi memberi peringatan (alarm atau wake up call). Generasi kedua adalah time management dengan perencanaan dan kalender. Pada generasi ketiga, dimasukkan unsur perilaku seperti bekerja dengan prioritas, menjabarkan prinsip-prinsip pareto (bahwa 80% hasil yang didapat ternyata banyak diperoleh dari 20% pekerjaan yang penting), dan mengedepankan tata nilai.

Namun orientasi waktu generasi keempat sudah dikaitkan dengan tata kelola dengan menggunakan berbagai peralatan teknologi. Waktu berjalan, para ahli telah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa yang unggul bukanlah bangsa yang mengorbankan waktu dan bekerja tanpa memikirkan prioritas. Semakin sering suatu bangsa mengabaikan timeline, seperti yang Anda lihat, semakin fragile (mudah rusak, berisiko gagal) bangsa itu.

Punctuality Nite

Di Afrika, kebiasaan menunda-nunda waktu dirasakan banyak pebisnis sebagai penyakit menular yang sama bahayanya dengan HIV-AIDS. Maka pada Oktober empat tahun yang silam para pebisnis di Republik Pantai Gading bekerja sama dengan pemerintah menyelenggarakan pesta budaya untuk memerangi budaya jam Afrika. Mereka menggelar kompetisi ketepatan waktu berhadiah sebuah vila seharga Rp1 miliar.

Menurut Reuters, kompetisi itu dilakukan untuk membangun kesadaran tentang besarnya kerugian yang dialami bangsa dari perilaku bekerja tanpa memperkirakan waktu. Kompetisi itu ditutup dengan malam kesenian disebut punctuality night (malam ketepatan waktu) dengan subtema: African time is killing Africa–let’s fight it! Saya berpikir, pemerintah yang baik tidak hanya peduli membangun bangsanya dengan hanya membangun infrastruktur fisik berupa jalan tol, pelabuhan, bendungan, dan gedung-gedung bertingkat saja. Pemerintah yang hebat perlu membangun budaya, yaitu budaya respek. Ini adalah budaya yang hampir hilang dari kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang menghargai waktu adalah orang-orang yang memiliki budaya respek.

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Saturday, February 28, 2009

21 MALAM di GAZA

Tifatul Sembiring (Presiden PKS)

Lelehan darah dan air mata rakyat Palestina meneriakkan kepiluan, "Waa Islamah…". Di manakah saudara-saudara seiman?. Sedangkan Rasulullah saw. pernah bersabda, "Perumpamaan orang-orang beriman dalam percintaan dan kasih sayang mereka, bagaikan satu tubuh. Bila ada satu bagian yang sakit, maka semua tubuh merasakan sakit dan demam, hingga tidak bisa tidur".


Di mana engkau wahai saudaraku kaum muslimin, Saat kaum Yahudi datang merobek-robek rumah kami, Menumpahkan segala jenis bom-bom dan amunisi Kreasi akhir zaman berteknologi tinggi Kami bertempur melawan musuh dan dinginnya malam Dengan tangan-tangan kosong, yang hanya tinggal kepalan. Di mana engkau wahai saudaraku kaum muslimin, Saat kami berlari-lari di kegelapan. Menghindari desing peluru yang berhamburan, Menyeret kaki berdarah-darah. Yang sobek tertancap besi yang patah. Di mana engkau wahai saudaraku kaum muslimin, Saat keluarga kami dicerai-beraikan, Oleh panasnya bom fosfor yang melelehkan jangat di badan. Saat aku berdiam menggigil di bawah gundukan Menanti waktu pagi saat gencatan. Di mana engkau wahai saudaraku kaum muslimin, Ketika kutemui anak-anak kami terserak bergeletakan Dengan tubuh lebam penuh luka mematikan. Saat jeritanku pecah, tak lagi tertahankan Menatap ketiga jasad mereka yang kaku dan diam Rasa nyeri hati tak mampu kusabarkan Semalam penuh mereka meraung-raung kesakitan. Kini… Kukecup satu per satu buah hati kami … dengan tatapan mata perpisahan Gaza… oh Gaza, dua puluh satu malam. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Tiga minggu penuh serangan brutal Israel dihujamkan ke wilayah Palestina di jalur Gaza. Pada awalnya serbuan dimulai dengan pesawat-pesawat canggih F-16 yang memekakkan telinga di jalur Gaza. Jalur yang sempit itu hanya memiliki lebar rata-rata lima kilometer dengan bagian yang paling lebar tidak lebih dari dua belas kilometer. Di sebelah Utara dan Timur berbatasan dengan Israel, di sebelah Barat ada bibir laut Mediterania.
 
Di Selatan ada sebuah celah sempit—kota Rafah—berbatasan dengan Mesir. Akan tetapi perbatasan ini dijaga oleh dua lapis pasukan. Lapis pertama oleh tentara Mesir dan lapis ke dua adalah tentara Israel. Dengan bom-bom cluster yang canggih, senjata terbaru buatan Amerika, Israel menghancurkan dan membombardir sasaran-sasaran sipil. Mereka tidak peduli apakah itu mesjid, sekolah-sekolah, rumah-rumah, bahkan tempat-tempat penampungan pengungsi yang dikelola oleh PBB. Semua mereka hantam dengan membabi buta. Serangan ini hanya dilawan Hamas dengan senjata-senjata kecil yang biasanya digunakan dalam perang kota. Tentu saja, terjadi ketidak seimbangan kekuatan yang sangat mencolok, karena harus melawan berbagai kekuatan senjata dan alat pembunuh yang canggih keluaran terbaru. Di tengah berlangsungnya kebiadaban ini, dengan tenang dan penuh diplomasi, George W. Bush—Presiden Amerika Serikat saat itu--mengatakan bahwa Israel hanya sedang membela diri karena ditembak roket-roket Hamas. Tidak puas dengan serangan udara, hari berikutnya tank-tank Israel merangsek masuk ke wilayah Gaza, menghantam dan meluluhlantakkan bangunan-bangunan yang ada. Tanpa belas kasihan, seorang wanita yang mengibarkan bendera putihpun dihajar oleh peluru tank Israel, hingga tubuhnya hancur berserpihan. Tentara-tentara Yahudi ini memang tak peduli, apakah sasarannya perawat, dokter, pekerja sosial, atau wartawan sekalipun, semua dibantai.
 
Sementara belasan negara Arab hanya mematung bingung tanpa protes, tanpa bantuan, dan tanpa pembelaan. Setiap pagi mata kita berkaca-kaca menyaksikan berita tentang Gaza di televisi. Malam demi malam korban selalu bertambah. Tidak kurang dari seratus orang rata-rata korban meninggal setiap hari dan lebih dari lima ratus orang luka berat. Saat gencatan senjata, setelah Gaza diserang selama tiga pekan, data jumlah korban meninggal lebih dari 1500 orang dan lebih dari 5000 orang luka berat dengan cacat permanen atau kelumpuhan dan amputasi anggota badan. Kebiadaban Israel ini memang di luar perikemanusiaan yang dikenal oleh peradaban. Bangsa yang telah dikutuk Allah swt. melalui lisan Daud dan Isa 'alaihimassalam ini datang dan merampas tanah-tanah rakyat Palestina, setelah Inggris menduduki wilayah tersebut paska Perang Dunia I. Skenario mendatangkan orang-orang Yahudi ke Palestinapun dimulai. Perlahan namun jumlah mereka setiap waktu meningkat sangat siginifikan. Lalu pada tahun 1922, PBB menguatkan mandat Palestina di bawah Inggris. Teror-teror Yahudi atas penduduk Palestina, bahkan kasus pembakaran Masjidil Aqsha, mendapat perlindungan penuh dari tentara Inggris. Dan atas bantuan PBB, Inggris, Rusia dan Amerika, maka pada tahun 1948 berdirilah Negara Israel. Mereka memperluas wilayah pendudukan atas Palestina dan wilayah Arab sekitarnya. Selanjutnya lebih ekspansi lagi dalam perang tahun 1967. Jadi sekali lagi perlu ditegaskan dan diingatkan, bahwa status Israel atas Palestina adalah PENJAJAHAN. Awalnya hanya 5% wilayah Palestina yang diduduki oleh Yahudi. Namun kini lebih dari 80% tanah Palestina telah dirampas Israel. Kisah terakhir adalah dipenghujung tahun 2008. setelah Israel sukses memecah belah pemerintahan Palestina hasil pemilu yang paling demokratis. Pemilu yang dimenangkan oleh Hamas tersebut dimusuhi, diboikot, termasuk oleh AS dan Negara-negara Eropa. Kemudian Palestina dibelah, Mahmud Abbas dan Fatah mengklaim Tepi Barat, sementara Hamas bertahan di Gaza. Lalu disepakati gencatan senjata antara Hamas dengan Israel, namun Israel memblokade seluruh perbatasan. Tentara-tentara Yahudi memutus aliran listrik, menyetop pasokan gas dan juga memutus aliran air bersih ke Gaza. Mereka juga menyetop dan menahan semua bantuan, termasuk makanan maupun obat-obatan bagi rakyat Palestina. Tampak jelas sekali Israel amat berambisi membuat 1,5 juta rakyat Palestina yang tinggal di Gaza ini mati perlahan. Korbanpun mulai berjatuhan.
 
Untuk memecah kebuntuan, setelah berakhirnya masa gencatan senjata, guna menarik perhatian dunia Internasional, maka Hamas menembakkan beberapa roket kecil ke wilayah Israel yang mengakibatkan kerusakan berupa lubang-lubang dangkal sebesar piring makan. Inilah yang kemudian direspon Israel dengan memborbardir habis Gaza selama 21 malam berturut-turut. Lelehan darah dan air mata rakyat Palestina meneriakkan kepiluan, "Waa Islamah…". Di manakah saudara-saudara seiman?. Sedangkan Rasulullah saw. pernah bersabda, "Perumpamaan orang-orang beriman dalam percintaan dan kasih sayang mereka, bagaikan satu tubuh. Bila ada satu bagian yang sakit, maka semua tubuh merasakan sakit dan demam, hingga tidak bisa tidur". Kita melihat sedikit sekali perhatian dunia Islam pada saudara-saudara kita di Gaza. Padahal, sumbangan ini walaupun kecil—katakanlah walau hanya satu dolar—akan sangat berarti manakala seluruh ummat Islam di dunia serempak melakukannya, agar saudara-saudara kita di Gaza pulih dari penderitaan dan kehancurannya. Solidaritas kita akan mengalirkan semangat pada rakyat Palestina di Gaza, hingga mereka akan bangkit dan terus berjuang. Bahkan seorang Michael Heart pun terinspirasi menggubah sebuah lagu "Sontg for Gaza", unutk melawan kezaliman ini, diantara bait syairnya berbunyi: "We will not go down in the night without a fight, you can burn up our mosques and our homes and our schools, but our spirit will never die. We will not go down in Gaza tonight." Memang kita sendiri—bangsa Indonesia—yang hampir 90% penduduknya adalah muslim. Peran dan kontribusi kita, sangat diharapkan oleh Negara-negara Islam lainnya, namun masih sangat sedikit memberi perhatian kepada rakyat Palestina. Berbagai demonstrasi solidaritas yang dilakukan, memprotes kebrutalan Israel, masih harus menerima cibiran dan kecurigaan dari beberapa kalangan. Dan saudaraku, betapa aku jadi malu sendiri, ternyata masih amat sedikit yang dapat kulakukan. Dan aku lebih tidak peduli lagi, ketika disebut sebagai tersangka, sebab membela saudara kami dari kejahatan kemanusiaan. Wallahua'lam bishawwab.

Thursday, February 26, 2009

Politikus dan Diplomat Desak AS-Israel Libatkan Hamas

Anton Suhartono - Okezone

LONDON - Para tokoh politik, mantan menteri luar negeri, serta mantan negosiator Timur Tengah, mendesak kelompok negara Middle East Quartet, untuk melibatkan Hamas dalam proses pembicaraan damai di Timur Tengah.

Dalam surat terbuka yang sempat dipublikasikan Spiegel Online Jerman dan Times of London dan dikutip Press TV, Kamis (26/2/2009) itu menyatakan, sebanyak 14 pembubuh tanda tangan surat itu mengatakan, Amerika Serikat dan Israel harus mengubah kebijakan mereka terhadap Hamas jika ingin ada kemajuan dalam proses perdamaian di Timur Tengah.

Di antara yang membubuhkan tanda tangan itu adalah mantan Menteri Luar Negeri Israel Ben Ami dan utusan PBB untuk Middle East Quartet Alvaro de Soto. Mereka menandaskan bahwa perdamaian tidak akan terjadi tanpa melibatkan Hamas. Surat itu dibuat setelah kunjungan utusan khusus AS George Mitchell dan utusan PBB Javier Solana ke wilayahyang tak pernah sepi dari  konflik itu.

Mereka menegaskan bahwa kebijakan komunitas internasional yang mengenyampingkan Hamas selama tiga tahun belakangan ini, harus diubah.

"Tidak akan berguna proses damai tanpa melibatkan satu perwakilan pemerintahan Palestina di mana antar faksi saling memerangi," demikian tertulis dalam surat itu.

Pada Rabu kemarin, menteri Luar Negeri Inggris David Miliband menyatakan mengadakan pembicaraan dengan Hamas merupakan hal baik untuk dilakukan.

Selama ini, Hamas tidak pernah dilibatkan dalam proses perdamaian. Palestina selalu diwakili dengan Presiden Mahmoud Abbas dari faksi Fatah. Fatah merupakan kelompok perlawanan Palestina yang mendapat dukungan dari AS.

Hamas sendiri pernah menyatakan, tanpa mengikutsertakan kelompoknya yang mayortas mendapat dukungan rakyat Palestina dalam pemilihan umum parlemen 2006 lalu, tidak akan tercipta atmosfer positif dan perkembangan dalam pembicaraan damai.

(ton)

Wednesday, February 25, 2009

[+] Sebuah Renungan ttg KESUKSESAN

Sukses itu sederhana,
sukses tidak ada hubungan dengan menjadi kaya raya,
sukses itu tidak serumit/serahasia seperti kata kiyosaki/tung desem waringin/the secret,
sukses itu tidak perlu dikejar,
SUKSES adalah ANDA!
karena kesuksesan terbesar ada pada diri Anda sendiri...

Bagaimana Anda tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi 1 ovum,
itu adalah sukses pertama Anda!

Bagaimana Anda bisa lahir dengan anggota tubuh sempurna tanpa cacat,
itulah kesuksesan Anda kedua...

Ketika Anda ke sekolah bahkan bisa menikmati studi S1,
di saat tiap menit ada 10 siswa drop out karena tidak mampu bayar SPP,
itulah sukses Anda ketiga...

Ketika Anda bisa bekerja di perusahaan bilangan segitiga emas,
di saat 46 juta orang menjadi pengangguran,
itulah kesuksesan Anda keempat...

Ketika Anda masih bisa makan tiga kali sehari,
di saat ada 3 juta orang mati kelaparan setiap bulannya
itulah kesuksesan Anda yang kelima...

Sukses terjadi setiap hari,
Namun Anda tidak pernah menyadarinya. ..

Saya sangat tersentuh ketika menonton film Click!
yg dibintangi Adam Sandler,
"Family comes first", begitu kata2 terakhir kepada anaknya sebelum dia meninggal...
Saking sibuknya Si Adam Sandler ini mengejar kesuksesan,
ia sampai tidak sempat meluangkan waktu untuk anak & istrinya,
bahkan tidak sempat menghadiri hari pemakaman ayahnya sendiri,
keluarga nya pun berantakan,
istrinya yang cantik menceraikannya,
anaknya jadi ngga kenal siapa ayahnya...

Sukses selalu dibiaskan oleh penulis buku laris
supaya bukunya bisa terus2an jadi best seller
dengan membuat sukses menjadi hal yg rumit
dan sukar didapatkan.. .
Sukses tidak melulu soal harta,rumah mewah,mobil sport,jam Rolex,pensiun muda,menjadi pengusaha,punya kolam renang/helikopter,punya istri cantik seperti Donald Trump,&resort mewah di Karibia...

Tapi buat saya pribadi yg bisa hidup dengan sangat berkecukupan,
saya rasa sukses memiliki arti yang berbeda...
Sukses adalah mencintai & bangga terhadap diri Anda sendiri,
mengerjakan apa yang Anda sukai kapan saja dan di mana saja....

Sukses sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Tuhan,
sukses yang sejati adalah menikmati & bersyukur atas setiap detik kehidupan Anda,
pada saat Anda gembira, Anda gembira sepenuhnya,
sedangkan pada saat Anda sedih, Anda sedih sepenuhnya,
setelah itu Anda sudah harus bersiap lagi menghadapi episode baru lagi.

Sukses sejati adalah hidup benar di jalan Allah,
hidup baik, tidak menipu, apalagi scam, saleh & selalu rendah hati,
Sukses itu tidak lagi menginginkan kekayaan ketimbang kemiskinan,
tidak lagi menginginkan kesembuhan ketimbang sakit,
sukses sejati adalah bisa menerima sepenuhnya kelebihan,keadaan,dan kekurangan Anda apa adanya dengan penuh syukur.

Saya berani berbicara seperti ini,
karena hidup yang saya alami ini seperti roda pedati,
ketika masih mahasiswa hidup begitu nelangsa
cuma mampu makan warteg 1 kali sehari dengan nasi setengah+sayur gratis+tempe goreng.
Tapi ternyata dulu nikmat makan di warteg kok sama saja bila dibandingkan ketika saya makan di restoran mewah di Amerika,

Saya pernah tidur di kolong langit, beralaskan tanah & terpal,
hujan kehujanan, & panas kepanasan.
Tapi ternyata lelapnya saya tidur dulu kok bisa sama saja
bila dibandingkan ketika saya tidur di hotel bintang 5 di Jepang,

Saya dulu, pulang-pergi ke sekolah jalan kaki atau bersepeda sejauh 40 km,
pakai baju lusuh, tas kotor & alat tulis seadanya,
datang ke sekolah selalu menjadi bahan tertawaan teman2 yg lebih kaya,
tapi kok sama saja enaknya ketika saya dijemput oom saya naik mercy,
sama2 nyampe juga ternyata, Mas...

Saya pernah diundang boss saya ke rumah barunya,
untuk menikmati ruang auditoriumnya,
ada speaker untuk karaoke, ada untuk mendengarkan musik,
ada untuk home theater,
dia bilang speaker Thiel-nya untuk mendengarkan musik saja seharga 400 juta,
saya disuruh ngedengerin waktu beliau putar musik jazz,
memang enak sekali, suara dentingan gelas & petikan bass bisa terdengar jelas,
tapi kok setengah jam di situ, saya toh bosan juga, Mas.
Sama saja nikmatnya mendengarkan musik di komputer sendiri,
yg speakernya cuma Simbadda 100 rb...

Pernahkah Anda menyadari?
Anda sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang
Uang hanyalah alat tukar,
Anda sebenarnya membeli rumah dari waktu Anda.
Ya, Anda mungkin harus kerja siang malam utk bayar KPR selama 15 tahun
atau beli mobil/motor kredit selama 3 tahun.
Itu semua sebenarnya Anda dapatkan dari membarter waktu Anda,
Anda menjual waktu Anda dari pagi hingga malam kepada penawar tertinggi
untuk mendapatkan uang supaya bisa beli makanan, pulsa telepon dll...

Aset terbesar Anda bukanlah rumah/mobil Anda,
tapi diri Anda sendiri,
Itu sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kali lipat dari orang bodoh....
Semakin berharga diri Anda, semakin mahal orang mau membeli waktu Anda...

Itu sebabnya kenapa harga 2 jam-nya Kiyosaki bicara ngalor ngidul di seminar
bisa dibayar 200 juta
atau harga 2 jam seminar Pak Tung bisa mencapai 100 juta!!!

Itu sebabnya kenapa Nike berani membayar Tiger Woods & Michael Jordan sebesar 200 juta dollar,
hanya untuk memakai produk Nike.
Suatu produk bermerk menjadi mahal/berharga bukan karena merk-nya,
tapi karena produk tsb dipakai oleh siapa...

Itu sebabnya bola basket bekas dipakai Michael Jordan diperebutkan,
bisa terjual 80 juta dollar,
sedangkan bola basket bekas dengan merk sama,
bila kita jual harganya justru malah turun...

Hidup ini kok lucu,
kita seperti mengejar fatamorgana,
bila dilihat dari jauh,
mungkin kita melihat air/emas di kejauhan,
namun ketika kita kejar dng segenap tenaga kita
& akhirnya kita sampai,
yang kita lihat yah cuman pantulan sinar matahari/corn flakes saja
oh...ternyata...

Lucu bila setelah Anda membaca tulisan di atas
NamunAnda masih mengejar fatamorgana tsb
ketimbang menghabiskan waktu Anda yg sangat berharga
untuk sungkem sama orangtua yg begitu mencintai Anda,
memeluk hangat istri/kekasih Anda,
mengatakan "I love you" kepada org2 yang anda cintai:
orang tua, istri, anak, sahabat2 Anda.
Lakukanlah ini selagi Anda masih punya waktu,
selagi Anda masih sempat,
Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan meninggal,
mungkin besok pagi, mungkin nanti malam,
LIFE is so SHORT.

Luangkan lebih banyak waktu untuk melakukan hobi Anda,
entah itu bermain bola, memancing,
menonton bioskop, minum kopi,
makan makanan favorit Anda,
berkebun, bermain catur, atau berkaraoke.. .
Enjoy Ur Life,
LIFE is so SHORT....

Friday, June 29, 2007

[+] Binatang Ternak

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku” (QS. Al-‘Araf: 146).

Meskipun berderajat tinggi, manusia disebut juga binatang ternak, dalam al-Qur‘an. Sebutan untuk makhluk berderajat rendah ini khusus diberikan kepada orang-orang yang tidak menempatkan dirinya sebagai manusia yang selayaknya.

Tetapi menempatkan dirinya sederajat dengan level binatang, yang tak berperasaan dan tak tahu aturan hidup. Makhluk yang tak berperasaan itu adalah yang tak berfungsi lagi tali-tali rasanya, seperti hati. Matinya tali rasa hati menyebabkannya tak mampu memahami anjuran-anjuran Allah, seperti anjuran untuk tidak berlaku sombong. Sebab kesombongan hanyalah milik Sang Khalik.

Matinya tali rasa hati juga mematikan pandangan. Sehingga apapun kekuasaan Allah yang terhampar luas dalam pandangan matanya, tak memberi pengaruh baik bagi dirinya sedikit pun, seperti timbulnya pengakuan diri sebagai hamba dhaif yang tak layak menyombongkan diri. Matinya tali rasa juga mematikan pendengaran. Sehingga apa-apa yang didengar tentang larangan Allah tak mampu memberi pengaruh baik pada perilakunya. Sehingga kesombongan, misalnya, akan berlangsung terus pada dirinya.

Memang demikian manusia pada level binatang ternak. Mereka sudah dipalingkan dari kebeneran. Juga Allah menyebut orang-orang seperti itu telah lalai (QS. Al-‘Araf: 179). Sehingga ada yang lalai atau terbuai dengan jabatannya. Cirinya, bila jabatannya menambah kesombongannya.

Friday, March 23, 2007

[+] Kesulitan

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyrah: 5–6).

Kesulitan tidak jarang bermakna kesempatan untuk proses pembelajaran bagi hamba-hamba Allah yang berpikir. Sebab, kesulitan seringkali membuka cakrawala berpikir dan memaksakan otak untuk menemukan sesuatu yang belum ada, sebagai jalan keluar dari kesulitan. Lebih-lebih manusia ditakdirkan akal. Allah juga sering mempertanyakan dalam al-Qur‘an tentang apakah hamba-hambaNya tidak menggunakan akalnya.

Bagi manusia yang menggunakan akalnya, beriman, dan bertawakkal, akan selalu mendapatkan jalan keluar dalam hidupnya. Kesempitan hidup seringkali berubah menjadi kesempatan untuk menyambut kehidupan. Bahkan ada jalan keluar pada waktu yang tidak disangka-sangka. Memang demikian janji Allah bagi hamba-hamba- Nya yang senantiasa beriman dan memaknakan pertanyaan-Nya dalam al-qur‘an. Memang kita sepatutnya tidak perlu ragu dengan janji Allah. Bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan akan ada kemenangan, kebahagiaan dan sejenisnya adalah janji yang pasti.

Persyaratannya adalah usaha yang tulus lewat berpikir dan bekerja. Namun mengapa terkadang janji itu tidak begitu saja terwujud pada seseorang hamba? Bisa jadi karena seseorang tidak secara konsisten dan sabar dalam menggunakan akalnya, beribadah, dan bertawakkal. Penyebab lain adalah karena Allah masih menguji ketahanan iman seseorang sampai pada tahap tertentu.

Di tengah proses pengujian mencapai tahap itulah, kadangkala orang berubah haluan dari jalur kesabarannya, sehingga ia berputus asa. Putus asa adalah wujud dari ketidaklurusan dalam berpikir.

Wednesday, March 21, 2007

Ahlan wa Sahlan :)

afwan baru bisa mulai posting lagi :)

[+] Keikhlasan

Keikhlasan

“Ya Allah, bila hamba ini beribadat karena mengharapkan surga-Mu, maka haramkan lah dari syurga-Mu. Dan bila hamba-Mu ini beribadat ini karena takut akan neraka-Mu, maka masukkanlah hamba ke dalam neraka-Mu” (Doa Rabi‘ah al-Adawiyah) .

Negeri Irak yang sedang berkecamuk perang sekarang ini suatu ketika pernah menjadi tempat dimana kebanyakan orang lupa kepada Allah dan mauk dengan dunianya. Namun berkat rahmat Allah, ada segelintir orang yang diselamatkan dari hal demikian, antara lain Rabiah Adawiyah. Menurut suatu riwayat, selamatnya wanita itu di antaranya karena keikhlasannya beribadah kepada Allah. Di waktu larut malam, di saat orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, Rabi‘ah senantiasa menyempatkan diri untuk mengadu kepada Allah. Dengan linangan air mata, beliau bermunajat dan mengucapkan terimakasih kepada Allah atas hidayah-Nya.

Dalam salah satu doanya, beliau mengatakan bahwa kecintaannya kepada Allah samasekali bukan mengharapkan surga-Nya atau takut neraka-Nya. Hal demikian selalu dipertahankannya sampai hembusan nafas terakhir. Kisah itu bermakna bahwa ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal, mendapat hidayah Allah, dan menyebabkan manusia selamat dunia dan akhirat. Beribadah yang banyak, tetapi tidak ikhlas itu sulit untuk meraih hal-hal demikian. Singkatnya, ibadah yang diterima hanyalah yang disertai keikhlasan semata-mata kepada Allah, dengan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu yang lain.

Di zaman banyak orang menjadi hamba materi seperti sekarang ini, hal demikian dirasakan sulit. Kebanyakan manusia berbuat sesuatu kalau ada materi yang diharapkan di balik perbuatannya, terutama hal-hal keduniaan seperti uang, pangkat, dan berbagai harta kekayaan dunia lainnya. Sehingga orang-orang yang tidak ikhlas bekerja seringkali melakukan hal-hal yang buruk, seperti menyunat hak-hak orang lain yang ada di tangannya. Kalau tidak segera bertaubat, kebiasaan semacam ini akan berlanjut hingga nafas penghabisan.

Wednesday, March 15, 2006

[+] Syariat Islam secara Kaffah

Syariat Islam yang Kaffah
dari sebuah sumber

PERTANYAAN :
Assalamu'alaikum Wr. Wb.Di Nanggroe Aceh Darussalam ini akan diberlakukan syariat Islam secara kaffah. Saya dengar-dengar, secara kafah itu meliputi seluruh aspek kehidupan. Saya amat khawatir tentang itu. Mungkin karena saya belum mengetahui prinsip dasar hukuman dan pensyariatannya. Saya amat berharap supaya Ustadz Pengasuh dapat menguraikannya dengan sedikit terinci. Untuk itu saya ucapkan banyak-banyak terima kasih.
Wassalam

JAWABAN :
Saudara/iYth.,Wa'alaikumus Salam, Wr. Wb.Memang, segala sesuatu, kalau kita belum tahu atau kenal pastilah kita tidak sayang dan kalau tidak sayang pastilah kita tidak mencintainya. Konon pula kalau ada informasi-informasi keliru yang menakutkan, pastilah kita akan takut. Syukurlah saudari belum sampai kepada tingkat takut, cuma baru sampai keperingkat amat khawatir. Saudari tak perlu khawatir. syariat Islam adalah ciptaan Allah SWT yang sengaja diciptakan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan -bahkan juga- di akhirat.
Allah SWT itulah yang telah menciptakan manusia, sehingga Allah SWT lebih tahu tentang manusia, kemaslahatan dan kemudharatan manusia, dari manusia itu sendiri. Makanya, seandainya seseorang manusia itu sakit, maka Allahlah yang menyembuhkankannya, meskipun melalui obat yang diberikan dokter. Kalau manusia hidup terancam oleh tindakan kriminal seseorang, maka Allah SWT-lah yang lebih tahu tentang cara melindungi madhluumiin dan memberi pelajaran atau tuntunan kepada pelaku kejahatan itu. Karenya ditetapkanlah sanksi-sanksi yang diyakini mampu mengobatinya.
Sanksi itu disebut uqubah. Uqubah adalah “suatu hukuman atas perbuatan yang melanggar ketentuan syar‘i yang ditetapkan untuk kemashlahatan masyarakat”. Tujuan disyariatkannya uqubah adalah untuk memperbaiki perilaku manusia dan lebih dari itu sebagai usaha untuk memelihara mereka dari segala bentuk kemafsadatan (kerusakan), menghindari mereka dari kesesatan, mengajak mereka untuk mentaati seluruh perintah Allah dan Rasul-Nya dan meredam seluruh bentuk perbuatan maksiat.
Prinsip dasar hukuman dalam Islam:
1. Hukuman itu bersifat universal; yaitu dapat menghentikan orang dari melakukan suatu tindak pidana, bisa menyadarkan dan memberi pelajaran bagi pelaku pidana dan sekaligus menyadarkan orang lain agar tidak melakukan tindak pidana.
2. Penerapan materi hukuman itu sejalan dengan kebutuhan dan kemashlahatan masyarakat. Apabila kemashlahatan masyarakat menginginkan hukuman lebih berat maka hukuman diperberat, sebaliknya apabila masyarakat menghendaki keringanan hukuman maka hukuman itu diringankan.
3. Seluruh bentuk hukuman yang dapat menjamin dan mencapai kemashlahatan pribadi dan ketentraman masyarakat adalah hukuman yang disyari‘atkan karenanya harus dijalankan.
4. Hukuman dalam Islam bukan bersifat balas dendam, tapi untuk melakukan perbaikan terhadap pelaku tindak pidana. Abdul Qadir Audah (w. 1373 H/1945 M), seorang ahli hukum pidana Islam dari Mesir, mengatakan bahwa prinsip hukum dalam Islam dapat disimpulkan dalam dua dasar pokok, yaitu menuntaskan segala bentuk perbuatan pidana dengan mengabaikan pribadi terpidana dan memperbaiki sikap terpidana.
Menuntaskan segala bentuk perbuatan tersebut bertujuan untuk memelihara stabilitas masyarakat, sedangkan untuk pribadi terpidana bertujuan memperbaiki sikap dan perilakunya.
Pensyari‘atan hukuman
1. Hukuman itu disyariatkan artinya didasarkan pada sumber hukum yang diakui oleh syari‘at Islam, seperti al-Qur‘an, Hadis, Ijma‘, Qiyas, dan Ijtihad.
2. Hukuman itu hanya dikenakan kepada pelaku tindak pidana karena pertanggungjawaban tindak pidana hanya dipundak pelakunya. 3. Hukuman itu bersifat universal dan berlaku bagi seluruh orang karena seluruh pidana di hadapan hakim sama derajatnya , Wallahu A'lamu Bish-Shawaab.

Monday, October 24, 2005

[+] Ukurlah - segalanya - dengan Iman

Ukurlah dengan Iman

"Apa yang dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Surgaku ada dalam jiwaku, Jika mereka memenjarakanku maka itu adalah masa penyepianku dengan Tuhanku. Jika mereka mengasingkanku ke suatu tempat yang jauh maka itu adalah masa pengembaraan bagiku. Jika mereka membunuhku, itu adalah kematian yang semoga menjadikanku sebagai syahid. " (Ibnu Taimiyah)


Bagaimana seseorang mengarungi hidup jika tanpa iman? Kesibukan, bagi orang yang tak memiliki iman, adaIah menapaki keinginan yang tak pernah selesai. Menjalani waktu, sejak pagi, siang, petang, malam hingga bertemu pagi kembali, bagi orang yang tak memiliki iman, adalah ibarat mengarungi belantara hutan yang tak pernah ada ujungnya, atau menyeberangi lautan luas yang tak pernah bertepi. Mereka terus bergelut dengan ambisi, memenuhi keinginan nafsu, sementara itu semua tidak pernah membuat lapar dan dahaganya berkurang.


Wajar, jika tak sedikit orang yang merasa lelah menjalani hidup. Ya, mereka lelah karena ternyata seluruh keringat, pikiran dan usahanya tak pernah membuatnya merasa cukup. Semakin banyak usaha yang diperoleh, semakin tinggi tuntutan untuk memperoleh yang lebih banyak. Peluh yang menetes temyata hanya memberi kepuasan yang makin membakar nafsu untuk mendapatkan yang lebih besar. Lalu setelah itu, jatuh bangun lagi, bertarung demi ambisi lagi, mengejar dan memenuhi nafsu lagi, untuk keinginan yang tak ada habisnya.


Saudaraku, Semoga kita semakin memahami, bahwa ada banyak keinginan yang temyata tidak baik untuk kita sendiri. Perhatikanlah bagaimana ungkapan seorang sahabat mulia, Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu, "Sesungguhnya ada seorang hamba yang sangat terobsesi mencapai sesuatu, baik masalah bisnis maupun kekuasaan. Dan sebenarnya ia dimudahkan untuk mencapai keinginannya itu. Tapi Allah melihatnya, lalu berkata pada para Malaikat-Nya, 'Hindari dia dari apa yang diinginkannya itu. Karena sesungguhnya jika Aku mudahkan dia memperoleh keinginannya, mala ia akan masuk neraka.' Maka orang itu pun dihindari oleh Allah dari apa yang diinginkannya. Selanjutnya, orang tersebut menduga-duga dengan mengatakan, 'Kenapa fulan lebih berhasil dariku, kenapa fulan lebih unggul dariku. Padahal apa yang terjadi itu tidak lain hanya karunia Allah swt belaka." (Nurul Iqtibas, 49)


Imanlah yang menyelamatkan kita dari dinarnika hidup yang melelahkan itu. Imanlah yang selalu memberikan kesegaran baru. Iman yang memberi pencerahan batin yang membuat kita selalu prima menghadapi badai apapun dalam hidup. Andai seorang hamba selalu mengembalikan segala masalah pada hakikat keimanan, niscaya ia yakin bahwa Allah tidak pemah menetapkan sesuatu kecuali kebaikan. Meskipun kebaikan itu tidak ia sadari.


Saudaraku, Pikiran kita seringkali tak mampu membaca langsung kebaikan-kebaikan Allah. Mungkin karena hati kita yang kerap tidak bersinar. Pergulatan hidup, sentuhan urusan dunia menyebabkan hati seseorang terselubung oleh suasana pekat. Itulah yang pernah digambarkan oleh Rasulullah saw pada kita, "Tidaklah hati seseorang itu kecuali ia mengalarni kondisi seperti awan dan bulan. Jika hati terdominasi oleh awan, maka hati akan menjadi gelap. Tapi bila awan itu menyingkir maka hati akan menjadi terang." (HR. Thabrani dalam hadits shahih).


Begitulah, hati yang terkadang tertutup oleh awan, akan terhijab cahayanya lalu menjadi temaram. Jika kita berupaya menambah keimanan dalam hati dengan memperbanyak amal shalih dan meminta pertolongan Allah untuk menyingkapkan awan itu, maka hati kita akan bercahaya lagi.


Karenanya saudaraku, Sadarilah kapan saat-saat awan kelabu itu mulai menyelimuti hati. Waspadailah ketika hati mulai terasa redup dan tak tersinari oleh cahaya. Seperti yang disebutkan dalam perkataan salafushalih, "Termasuk kecerdasan seorang hamba adalah, jika ia menyadari kondisi imannya dan apa-apa yang kurang darinya."


Ada pula para salafushalih yang mengatakan bahwa termasuk kecerdasan seorang hamba adalah, "Jika ia mengetahui dari mana datangnya bisikan-bisikan syaitan pada hatinya."


Kembalilah pada iman, maka semua keinginan kita akan terwujud. Keinginan yang tidak dibatasi oleh target, angka atau hasil yang bisa diraba. Karena keinginan tak pemah selesai oleh target, angka dan hasil-hasil itu. Tapi keimanan akan memberi semua harapan, melalui ketenangan, ketentraman hati dan kepuasan. ltulah yang kita cari.


Imam Ibnul Jauzi mengatakan, "Wahai orang yang ditolak dari pintu. Wahai orang yang terhalangi menemui kekasihnya. Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi raja. Lihatlah sarana apa yang bisa membantumu untuk mengetahui posisimu di sisi sang raja. Lihatlah pekerjaan apa yang menyibukkanmu. Betapa banyak orang yang berdiri di depan pintu istana raja. Tapi tak satupun yang dapat masuk dan berhadapan dengan raja kecuali orang-orang yang memang telah dipilih oleh sang raja. Tak seluruh hati bisa mendekat. Tak semua jiwa menyimpan rasa cinta."


Seorang ulama menjelaskan makna perkataan Ibnul Jauzi ini. Ia mengatakan bahwa jika seseorang ingin tahu di mana posisinya di hadapan Allah, bercerminlah pada amal-amal yang menyibukkannya. "Jika ia sibuk dengan dakwah dan berbagai masalahnya, jika ia sibuk menyelamatkan umat manusia dari neraka, jika ia sibuk melakukan pekerjaan untuk memperoleh kemenangan di surga, menolong yang lemah dan orang yang membutuhkan, maka bergembiralah karena semoga ia mempunyai kedudukan yang dekat dengan Allah. Beritakanlah kabar gembira bahwa Allah tidak akan memberikan kebaikan kecuali pada orang yang Ia cintai. Tapi jika ia dia berpaling dari dakwah, berpaling dari para juru dakwah, berpaling dari melakukan kebaikan, sibuk dengan dunia dan mengumpulkan harta benda, sibuk dengan banyak bertanya tapi sedikit beramal, sibuk dengan mengikuti hawa dan nafsu, ketahuilah bahwa ia jauh dari Allah."


Saudaraku, Lihatlah apa sarana yang bisa mendekatkan kita pada Allah? Dan apa pekerjaan yang menyibukkan kita? Allah akan memilih orang-orang yang bisa menempuh sarana yang mendekatkan diri kita pada-Nya dan menyibukkan diri untuk menjalani perintah-Nya. Mari mengukur segala keadaan dengan iman.
Mari kembalikan semua keinginan pada keimanan. Mari melihat peristiwa hidup apa saja dengan kaca mata iman, Ibnu Taimiyah mengatakan, "Apa yang dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Surgaku ada dalam jiwaku, Jika mereka memenjarakanku maka itu adalah masa penyepianku dengan Tuhanku. Jika mereka mengasingkanku ke suatu tempat yang jauh maka itu adalah masa pengembaraan bagiku. Jika mereka membunuhku, itu adalah kematian yang semoga menjadikanku sebagai syahid."


Saudaraku, Adakah kekecewaan, kekhawatiran, kegelisahan dan ketakutan di sana?


~ Berjuang di dunia berharap Pertemuan di Surga ~ *** Tarbawi ***
[ usahamulia.net ]

Friday, October 21, 2005

[*] Episode II : Birokrat PKS

BismiLLAAHir RAHMAANir RAHIIM,

Pada kesempatan berikutnya kebetulan ana diundang untuk hadir dlm
SilatuRRAHIM dan Buka Puasa Bersama di rumah dinas Mentan DR Anton
Apriyantono di Jl Denpasar Raya, comp Widya Chandra..

Kesan kesederhanaan yg sama ana dapati dg apa yg saya saksikan
ketika di rumah DR Hidayat (walaupun perlu diakui bahwa perabotan
rumah DR Hidayat memang lebih sederhana), saat bertemu akh Anton
Apriyantono memakai baju PDL (mirip baju Hansip dg plat nama &
lambang Deptan)..

Dalam kesempatan bincang2 dg beliau, ana langsung menanyakan ttg
Kebijakan Impor Beras yg sama sekali tidak populer & tdk berpihak pd
petani.. Maka beliau menyampaikan dg tegas bahwa beliau menolak
impor beras, karena stock dalam negeri masih lebih dari cukup, lalu
terjadi tanya jawab cukup serius diantara kami sbb (saat itu bersama
kami juga ada beberapa wartawan) :

Ana : Lalu kenapa di media diberitakan bahwa pemerintah akan
melakukan impor beras?

DR Anton : Kebijakan impor diambil dlm rapat kabinet saat saya
sedang tidak di tempat (sedang di Pakistan), makanya media tidak
berani memojokkan kita, karena mereka tahu siapa di belakang semua
ini, ya kan?! (Kata DR Anton pd beberapa wartawan yg duduk bersama
kami yg disambut mereka dg tertawa..)

Ana : Kok bisa begitu? Lalu apa maksudnya & siapa yg menggagas?

DR Anton : Siapa lagi kalo bukan para menteri pebisnis?! Kebijakan
itu tdk ada relevansinya sama sekali dg pertanian kita & juga tdk
ada relevansinya dg kebutuhan dalam negeri saat ini, ini murni
bisnis cari untung.

Ana : Nah, sekarang kan sudah diambil kebijakan ya akhi, bisa tidak
antum batalkan kebijakan itu demi ummat?

DR Anton : Kalo dibatalkan tidak bisa karena itu keputusan rapat
kabinet, tapi dijegal bisa insya ALLAH

Ana : Bagaimana cara menjegalnya???

DR Anton : Dlm Undang2 disebutkan bahwa impor tidak bisa dilakukan
kalau stock di dalam negeri masih cukup, semua data stock beras
dalam negeri Deptan yg pegang, jadi mereka tdk akan bisa impor kalo
tdk kita yg merekomendasi, mudah2 an soal data itu kita tidak
dilompati lagi sama mereka

Ana : AlhamduliLLAH.. Lalu katanya ada isu antum tidak adil dlm
penempatan eselon di Deptan?

DR Anton : Di Deptan itu ada 19.000 pegawai sementara jabatan yg
dipromosikan amat sedikit, jadi wajar kalau kita pilih disamping
prestasinya juga akhlaknya yg baik, kalo ada yg tidak puas ya
silakan laporkan saja

Ana : Bagaimana ttg isu islamisasi di Deptan?

DR Anton : Itu isu yg dilontarkan oleh orang2 yg memang sudah gerah
dg pembersihan korupsi yg kita gulirkan di Deptan, jadi setiap
langkah kita mereka sudah antipati lalu menyebar isu, semua yg kita
lakukan kemudian dilihat dari negatif-thinking, kenapa juga saat
Bungaran yg naik dulu tdk ada dikatakan juga isu kristenisasi? Ini
murni dipolitisir, kami tdk akan tanggapi isu2 seperti itu, ancaman
via SMS & telpon soal gerakan anti KKN sudah banyak ke saya, tp IA
kami akan terus bergerak pelan2 tapi pasti soal korupsi ini,
ternyata untuk melaksanakannya memang tidak semudah yg dibahas di
halaqoh.. Ha..Ha..Ha (Sambil tertawa beliau pamit dari kami)

ALLAHu a'lam bish Shawab..


Nabiel Almusawa

[*] Episode 1 : Birokrat PKS

berikut ada email dari sebuah milis, yang semoga saja Ust.Nabiel selaku yang menulis email tidak berkeberatan email beliau dipublikasikan dalam blog ini.
------
(Untuk Para Kader PKS Yg Bertanya via Japri)

BismiLLAAHir RAHMAANir RAHIIM,

Beberapa hari yg lalu ana berkesempatan untuk ikut dalam acara buka bersama dengan Ketua MPR-RI, DR Muhammad Hidayat Nurwahid, MA di rumah dinasnya comp. Widya Chandra dg beberapa ikhwah..

Ketika ana masuk ke rumah dinas beliau tsb, maka dalam hati ana bergumam sendiri : Alangkah sederhananya isi rumah ini.. Ana melihat lagi dg teliti, meja, kursi2, asesori yg ada, hiasan di dinding.. SubhanaLLAH, lebih sederhana dari rumah seorang camat sekalipun..

Ketika ana masuk ke rumah tsb ana memandang ke sekeliling, kebetulan ada disana Ketua DPR Agung Laksono, Wk Ketua MPR A.M Fatwa, Menteri Agama, dan sejumlah Menteri dari PKS (Mentan & Menpera) serta anggota DPR-RI, serta pejabat2 lainnya..

Lagi2 ana bergumam : Alangkah sederhananya pakaian beliau, tidak ada gelang dan cincin (seperti yg dipakai teman2 pejabat yg lain disana).. Ternyata beliau masih ustaz Hidayat yg ana kenal dulu, yg membimbing tesis S2 ana dg judul : Islam & Perubahan Sosial (kasus di Pesantren PERSIS Tarogong Garut)..

Terkenang kembali saat2 masa bimbingan penulisan tesis tsb, dimana ana pernah diminta datang malam hari setelah seharian aktifitas penuh beliau sebagai Presiden PKS, dan ada 10 orang tamu yg menunggu ingin bertemu.. Ana kebagian yg terakhir, ditengah segala kelelahannya beliau masih menyapa ana dg senyum : MAA MAADZA MASAA'ILU YA NABIIL..?

Lalu ana pandang kembali wajah beliau, kelihatan rambut yg makin memutih, beliau bolak-balik menerima tamu, saat berbuka beliau hanya sempat sebentar makan kurma & air, karena setelah beliau memimpin shalat magrib terus banyak tokoh yg berdatangan, ba'da isya & tarawih kami semua menyantap makanan, tapi beliau menerima antrian wartawan dalam & luar negeri yg ingin wawancara..

Tdk terasa airmata ana menetes, alangkah jauhnya ya ALLAH jihad ana dibandingkan dg beliau, ana masih punya kesempatan bercanda dg keluarga, membaca kitab dsb, sementara beliau benar2 sudah kehilangan privasi sebagai pejabat publik, sementara beliaupun lebih berat ujian kesabarannya untuk terus konsisten dlm kebenaran dan membela rakyat..

Tidaklah yg disebut istiqamah itu orang yg bisa istiqamah dlm keadaan di tengah2 berbagai kitab Fiqh dan Hadits seperti ana yg lemah ini.. Adapun yg disebut istiqamah adalah orang yg mampu tetap konsisten ditengah berbagai kemewahan, kesenangan, keburukan, suap-menyuap dan lingkungan yg amat jahat & menipu..

Ketika keluar dari rumah beliau ana melihat beberapa rumah diseberang yg mewah bagaikan hotel dg asesori lampu2 jalan yg mahal dan beberapa buah mobil mewah, lalu ana bertanya pd supir DR Hidayat : Rumah siapa saja yg diseberang itu? Maka jawabnya : Oh, itu rumah pak Fulan dan pak Fulan Menteri dari beberapa partai besar.. Dalam hati ana berkata : AlhamduliLLAH bukan menteri PKS..

Saat pulang ana menyempatkan bertanya pd ustaz Hidayat : Ustaz, apakah nomor HP antum masih yg dulu? Jawab beliau : Na'am ya akhi, masih yg dulu, tafadhal antum SMS saja ke ana, cuma afwan kalo jawabannya bisa beberapa hari atau bahkan beberapa minggu, maklum SMS yg masuk tiap hari ratusan ke ana..

Kembali airmata ana menetes, alangkah beratnya cobaan beliau & khidmah beliau untuk ummat ini, benarlah nabi SAW yg bersabda bahwa orang pertama yg dinaungi oleh ALLAH SWT di Hari Kiamat nanti adalah Pemimpin yg Adil.. Sambil berjalan pulang ana berdoa : Ya ALLAH, semoga beliau dijadikan pemimpin yg adil & dipanjangkan umur serta diberikan kemudahan dlm memimpin negara ini.. Aaamiin ya RABB..


Nabil Almusawa

Monday, September 19, 2005

[^] Ceramah Rasulullah Ketika Menjelang Ramadhan

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan ALLAH dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi ALLAH. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu ALLAH dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Memohonlah kepada ALLAH Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar ALLAH membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan ALLAH di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.
Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada ALLAH dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika ALLAH Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah! ALLAH ta'ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbul-alamin.
Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi ALLAH nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. Sahabat-sahabat Rasulullah bertanya: "Ya Rasulullah Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian." Rasulullah meneruskan: Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.
Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, ALLAH akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, ALLAH akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, ALLAH akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, ALLAH akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, ALLAH akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa melakukan shalat sunat dibulan ini, ALLAH akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, ALLAH akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Qur'an, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Qur'an pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin berkata: "Aku berdiri dan berkata: "Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?" Jawab Nabi: Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama dibulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan ALLAH".

Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang ALLAH telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu'.

Barangsiapa mendekatkan diri kepada ALLAH dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.

Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan ALLAH memberikan rizqi kepada mukminin di dalamnya.

Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang." Para sahabat berkata, "Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah SAW, "Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.

Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barang siapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya ALLAH mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.

Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya. Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain ALLOH dan mohon ampun kepada-Nya. Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.

Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga. (HR. Ibnu Huzaimah).

Tuesday, September 06, 2005

[+] Karunia, Dalam Arti Yang Sebenarnya

Sesuatu baru dapat dikategorikan sebagai karunia dari ALlah adalah manakala setelah kita mendapat sesuatu tersebut dapat membuat kita semakin dekat dengan Allah


Kita sadari ataupun tidak, kehidupan materialistis telah membuat kita lupa akan arti karunia Allah sebenarnya. Orientasi terhadap materi yang begitu tinggi mengubah perspektif kita terhadap karunia. Kita sering menganggap bahwa segala sesuatu yang diberikan Allah kepada kita berupa tambahan materi adalah sebuah karunia. Kenaikan gaji, kehidupan layak, jabatan yang dihormati oleh masyarakat, kedudukan yang terhormat, dsb seolah-olah itu adalah merupakan karunia oleh Allah. Sebenarnya, jika kita telah memperoleh satu atau - bahkan - semua hal diatas belum dapat dikatakan bahwa kita benar-benar telah mendapatkan karunia dari Allah. Lho kok?

Kita sebagai muslim harusnya mempunyai perspektif yang berbeda tentang karunia dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mengenal eksistensi Tuhan. Dan perspektif yang benar ini pulalah yang mendatangkan ketentraman dalam hidup kita dari persaingan semu yang hanya mendatangkan kepada kemudharatan.

Sesuatu baru dapat dikategorikan sebagai karunia dari ALlah adalah manakala setelah kita mendapat sesuatu tersebut dapat membuat kita semakin dekat dengan Allah. JIka sekarang kita telah bekerja di sebuah perusahaan ternama, kita baru dapat mengatakan bahwa hal tersebut adalah karunia dari Allah jika hubungan atau interaksi kita dengan Allah semakin dekat dibandingkan dengan sebelum kita bekerja di perusahaan tersebut. Jika setelah melakukan komparasi, rupanya kualitas ibadah kita dan interaksi kita dengan Allah semakin berkurang jika dibandingkan dengan sebelum kita bekerja maka kita patut waspada ! Jangan-jangan ini bukan merupakan nikmat dari Allah.

Ada banyak orang yang miskin yang begitu sabar dengan kemiskinannya, akan tetapi ketika kelapangan telah datang kepada mereka, mereka sudah mulai lupa dari mana mereka berasal sehingga interaksi mereka dengan ALlah pun amburadur. Lalu apakah kekayaan yang telah Allah berikan kepada mereka dapat kita katakan sebagai karunia sejati?

dalam hal lain, ada juga sekelompok orang kaya yang jauh dari interaksi dengan Allah. Tapi manakala musibah datang kepada mereka, dan mereka pun jatuh miskin, akan tetapi kemudian mereka bertaubat, dan interaksi mereka dengan Allah pun semakin dekat. Mereka sudah mulai melakukan ibadah yang sangat jarang sekali mereka lakukan kala mereka berada pada posisi berkecukupan. Inilah Karunia Sejati...!

Buat apa harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, penghasilan yang besar jika akhirnya hanya membuat kita jauh dari ALlah !

Buat apa juga kedudukan yang tinggi jika hanya melahirkan sifat sombong, padahal karena sifat itu pulalah Iblis diusir dari neraka, dan ALlah sudah menjanjikan tidak akan memasuki syurga seseorang yang masih tersimpan dalam hatinya rasa sombong

Yang kita butuhkan sekarang adalah, Karunia hakiki dari Allah, yang dengannya akan membuat kita semakin dekat dengan Allah

Jadi mulai sekarang, ketika kita menerima sesuatu, kita harus berdoa dan berharap kepada ALlah, agar dengannya kita semakin dekat dengan Allah

Allahumma amien

Wednesday, August 31, 2005

[^] Bahaya Menganggap Enteng Dosa

Ketahuilah –semoga Allah menyayangi kita semua- bahwa sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah telah mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk mengikhlaskan taubat, Ia berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 8 yang artinya : “ Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”

Allah telah memberi karunianya kepada kita dengan memberi kesempatan untuk bertaubat yaitu sebelum malaikat yang mulia mencatatnya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya : “ Sesungguhnya malaikat yang berada disebelah kiri menahan dari menulis kesalahan hamba yang muslim selama enam jam, apabila ia menyesal dan meminta ampun kepada Allah maka malaikat akan membiarkannya, tetapi apabila tidak, maka dicatatnya sebagai satu kesalahan. “ H.R. Thabrani dalam “ Al-Mu’jam Al-Kabir “, dan Al-Baihaqi dalam “Syu’abul Iman”, dihasankan oleh Syaikh Al-Bani dalam “ Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah” no. 1209

Dan kesempatan yang lain setelah ditulisnya tetapi sebelum datangnya ajal. (Arti “jam” pada hadits diatas ada kemungkinan jam yang kita kenal atau berarti waktu sesaat di malam atau siang hari, “Lisanul Arab sin, wau, ‘ain- “Faidhul Qadir” oleh Imam Al-Munawi).

Musibah yang banyak menimpa manusia hari ini adalah mereka tidak berharap kepada Allah, sehingga mereka siang malam selalu berbuat maksiat dengan berbagai macam dosa kepada-Nya, diantara mereka ada segolongan yang ditimpa musibah “menganggap kecil dosa” , maka engkau lihat salah seorang mereka menganggap enteng dosa-dosa kecil yang ia lakukan, seperti dengan mengatakan : “memandang dan berjabat tangan dengan wanita yang bukan muhrim tidaklah berakibat apa-apa”. Dan mereka menikmati pandangan-pandangan haram yang terdapat di majalah-majalah dan film-film seri, sampai-sampai sebagian dari mereka apabila tahu tentang haramnya suatu masalah ia bertanya dengan nada meremehkah : “Berapa besarnya dosa tersebut? Apakah ia dosa besar atau dosa kecil?”

Apakah engkau mengetahui kenyataan yang ada maka bandingkanlah dengan dua atsar berikut ini yang terdapat dalam Shahih Bukhari -semoga Allah merahmatinya- :

Dari Anas Radhiallahu 'anhu, ia berkata : “sesungguhnya kalian berbuat amalan yang menurutmu lebih halus dari rambut, tetapi kami di masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menganggapnya sebagai dosa besar yang membinasakan.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu 'anhu, ia berkata : “Sesungguhnya seorang mu’min, ia melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk dibawah gunung, ia takut kalau gunung itu jatuh menimpanya. Dan sesungguhnya seorang fajir (yang banyak berbuat dosa) melihat dosa-dosanya bagaikan lalat yang hinggap di hidungnya maka ia berbuat demikian menggerakkan tangannya maka ia mengusirnya.

Maka tidaklah mereka (yang menganggap enteng suatu dosa) memikirkan betapa bahayanya perkara ini, padahal Nabi mereka Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah bersabda yang artinya : “ Hati-hatilah kalian dengan dosa kecil, sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa kecil bagaikan satu kaum yang turun kepada kembah, maka seorang datang membawa kayu bakar, dan yang lainnya membawa sepotong juga, sehingga mereka membawa sesungguhnya dosa-dosa kecil membinasakan pelakunya ketika ia dihisap.” Dan dalam riwayat lain : “Hati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu apabila berkumpul pada orang tersebut akan membinasakannya.” H.R. Ahmad (lihat Shahih Al Jami’ no. 2686-2687)

Para ulama menyebutkan bahwa dosa kecil yang dibarengi dengan tidak adanya malu, tidak perduli, tidak ada rasa takut kepada Allah, ditambah dengan sikap meremehkannya akan mengakibatkan terjerumus ke dalam dosa besar, bahkan dosa kecil tadi berubah menjadi setingkat dengan dosa besar. Oleh karena itu tidaklah disebut dosa kecil apabila dilakukan terus-menerus, dan tidaklah disebut dosa besar apabila dibarengi dengan bertaubat (istigfar).

Dan kami mengatakan kepada orang yang keadaannya demikian : “Janganlah engkau melihat kepada kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa engkau berbuat maksiat.”

Semoga kata-kata ini dapat bermanfaat bagi orang-orang yang benar, yaitu mereka yang selalu merasa penuh dosa dan kelalaian, bukan mereka yang tidak peduli terhadap kesesatan mereka dan bukan pula mereka yang terus menerus dalam kebatilan.

Sesungguhnya kata-kata ini untuk mereka yang beriman kepada firman Allah :
( نبىّء عبادى أنىّ أنا الغفور الرحيم )

“ Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang “ (Q.S. Al Hijr 49)

Selain itu mereka beriman pula kepada firman-Nya :
(وأنّ عذابى هو العذاب الأليم)
“Dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (Q.S. Al Hijr 50)

Sunday, August 28, 2005

[*] Jama'ah yang Efektif

Mungkin jauh lebih realistis untuk mencari jama'ah yang efektif ketimbang mencari jama'ah yang ideal. Kita adalah ummat yang sakit. Setiap kita mewarisi kadar tertentu dari penyakit tersebut. Jika orang-orang sakit itu saling bertemu dalam sebuah jama'ah, pada dasarnya jama'ah itu juga merupakan jama'ah yang sakit. Itulah faktanya.

Tapi tugas kita menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan. Jama'ah yang efektif adalah jama'ah yang dapat mengeksekusi atau merealisasikan rencana-rencananya. Kemampuan eksekusi itu lahir dari integrasi antara berbagai elemen; ada sasaran dan target yang jelas, strategi yang tepat, sarana pendukung yang memadai, pelaku yang bekerja dengan penuh semangat, lingkungan strategi yang kondusif.

Jama'ah yang didirikan untuk kepentingan menegakkan syariat Allah Swt di muka bumi, akan menjadi efektif apabila ia memiliki syarat-syarat berikut ini;

Pertama, ikatannya aqidah, bukan kepentingan. Orang-orang yang bergabung dalam jama'ah itu disatukan oleh ikatan aqidah, dipersaudarakan oleh iman, dan bekerja untuk kepentingan Islam. Mereka tidak disatukan oleh kepentingan duniawi yang biasanya lahir dari dua kekuatan syahwat; keserakahan (hubbud dunya) dan ketakutan (karahiatul maut).

Kedua, jama'ah itu sarana, bukan tujuan. Jama'ah itu tetap diposisikan sebagai sarana, bukan tujuan. Sehingga tidak ada alasan untuk memupuk dan memelihara fanatisme sekadar untuk menunjukkan kesetiaan pada grup. Hilangnya fanatisme juga memungkinkan jama'ah- jama'ah itu saling bekerja sama diantara mereka, membangun jaringan yang kuat, dan tidak terjebak dalam pertarungan yang saling mematikan.

Ketiga, sistem, bukan tokoh. Jama'ah itu akan menjadi efektif jika orang-orang yang ada di dalamnya bekerja dengan sebuah sistem yang jelas, bukan bekerja dengan seseorang yang berfungsi sebagai sistem. Pemimpin dan prajurit hanyalah bagian dari strategi, sistem adalah sesuatu yang terpisah. Dengan cara ini kita mencegah munculnya diktatorisme dimana selera sang Pemimpin menjelma menjadi sistem.

Keempat, penumbuhan, bukan pemanfaatan. Sebuah jama'ah akan menjadi efektif jika ia memandang dan menempatkan orang-orang yang bergabung ke dalamnya sebagai pelaku-pelaku, yang karenanya perlu ditumbuh- kembangkan secara terus menerus, untuk fungsi pencapaian tujuan jama'ah itu. Jama'ah itu akan menempatkan dirinya sebagai fasilitator bagi perkembangan kreativitas individunya, dan tidak memandang mereka sebagai pembantu-pembantu yang harus dipaksa bekerja keras, atau sapi- sapi yang dungu yang harus diperah setiap saat.

Kelima, mengelola perbedaan, bukan mematikannya. Jama'ah yang efektif selalu mampu mengubah keragaman menjadi sumber kreativitas kolektifnya. Dan itu dilakukan melalui mekanisme syuro yang dapat memfasilitasi setiap perbedaan untuk diubah menjadi konsensus..

Wednesday, August 24, 2005

[^] Diam Itu - Tidak Selamanya - Emas

“Orang yang diam terhadap suatu kemungkaran ibarat setan yang bisu” (Abu Ali bin Daqqaq). Diam ternyata tidak selamanya bernilai emas atau baik. ketika kita diam terhadap suatu kemungkaran, misalnya, maka itu akan sama halnya dengan tidak baik. Bahkan, Rasulullah SAW menyamakan diam tersebut dengan ikut membiarkan suatu keburukan terjadi. Bahkan pada diam ketika mampu untuk mencegahnya, bisa sama dengan telah ikut melakukan keburukan tersebut.

Makanya sangatlah wajar kalau Abu Ali bin Daqqaq mengibaratkan orang yang diam dalam keadaan demikian itu dengan setan. Memang kadangkala, kita tidak mampu memahami diri, apakah sedang diam terhadap kemungkaran atau sedang melakukan sesuatu untuk mencegahnya. Hal ini terjadi karena bisa jadi kemungkaran itu sedang dilakukan oleh orang-orang tertentu seperti oleh kerabat, orang-orang yang disegani atau mungkin oleh diri sendiri. Dalam posisi demikian, sebahagian kita amat sulit untuk tegas, sehingga terjadilah yang namanya ketidakadilan. Ketidakadilan yang dimaksud adalah, kita baru mampu melihatnya sebagai suatu kemungkaran manakala dilakukan oleh orang lain, terutama oleh orang-orang yang berseberangan pendapat dengan kita.

Padahal Allah menganjurkan kita untuk selalu menegakkan keadilan, tak terkecuali untuk diri sendiri. Berkenaan dengan hal ini, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabat kalian. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjaan” (QS an-Nisaa`: 135)

Friday, August 19, 2005

[+] Ada Saatnya Untuk Berhenti...

Waktu memang tak pernah berhenti berjalan, meski manusia di dalamnya tak bergerak sekali pun. Beruntunglah orang-orang yang selalu mengisi kehidupannya dengan berbagai macam kegiatan dan amalan. Semangat dan tekad yang kuat di dalam hati memang mampu membuat manusia bergerak layaknya air yang mengalir,terus bergerak mengikuti arus.

Ketika kita yakin bahwa hidup ini cuma sekali dan dunialah tempat kita menempa amal, mempersiapkan bekal yang terbaik sebelum akhirnya memasuki akhirat yang kekal, maka sepatutnya kita paham bahwa tak ada waktu yang boleh disia-siakan. Begitu banyak yang bisa dan harus kita kerjakan. Bahkan terkadang kita merasa bahwa waktu 24 jam yang diberikan masih kurang jika harus dibagi untuk mengerjakan amanah pekerjaan, kuliah, dakwah, keluarga, dan mengurusi diri sendiri.

Berlomba-lombalah dalam mengerjakan kebaikan, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kita kerjakan. Tapi terkadang ketika kita begitu sibuk mengerjakan amanah, ada hal-hal yang kita abaikan. Saudaraku, cobalah bertanya pada diri sendiri. Jujurlah pada nurani. Sudahkah hak-hak diri kita tunaikan? Apakah ibadah kita tetap terjaga? Atau justru tilawah semakin berkurang dan malam demi malam selalu terlewatkan tanpa sempat sujud meski hanya dua rakaat di sepertiga malam?

Ibarat orang yang sedang melakukan perjalanan jauh, maka sesekali perlu berhenti untuk beristirahat atau mengisi bahan bakar kendaraan. Seperti itulah layaknya kita. Ketika bergerak, harus ada waktu dimana kita mengisi kekuatan, menenangkan pikiran, baru kemudian bergerak lagi. Rasakanlah betapa kosongnya hati ketika salat kita tak lagi khusyuk (bahkan terburu-buru), tilawah kita tak pernah mencapai target, Dhuha tak sempat dilakukan, dan akhirnya malam hanya meninggalkan lelah yang amat sangat. Apakah itu yang kita rasakan saat ini?Jika iya, maka berhentilah sejenak. Sejenak saja... tanyalah pada diri, sudah sejauh mana kita tidak lagi tawazun (seimbang) pada diri? Saudaraku, benahilah kembali hak-hak diri dan orang lain yang selama ini mengkin terabaikan. Shalatlah sambil mengingat dosa-dosa yang mungkin sering kita lakukan tanpa kita sadari. Perbanyak doa agar kita selalu diberi kekuatan dan kesabaran. Bacalah Al-quran sambil merenungkan maknanya. Kerjakan amalan sunnah yang selama ini mungkin jarang sekali tersentuh.


Beruntunglah orang yang melakukan tasbih (shalat) ketika manusia sedang tertidur.
Ia pendam keinginannya diantara tulang rusuknya (dadanya).
Dalam suasana yang diliputi ketenangan yang khusyu.
Berdzikir kepada Allah sedang air matanya mengalir.
Kelak air matanya itu di kemudian hari akan menjadi pelita.
Guna menerangi jalan yang ditempuhnya di hari perhimpunan.
Seraya bersujud kepada Allah di penghujung malam.
Kembalilah kepada Allah dengan hati yang khusyu.
Dan berdoalah kepada-Nya dengan mata yang menangis.
Niscaya Dia akan menyambutmu dengan pemaafan yang luas.
Dan Dia akan menggantikan semua keburukanmu itu.
Dengan kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepadamu tanpa habis-habisnya.
Semua pemaafan itu diberikan bagi hamba yang kembali pada-Nya.
Sebagai karunia yang berlimpah dari Pencipta alam semesta.
Bagi orang-orang yang segera bertaubat kepada-Nya
(gubahan Walid)

Berhenti sejenak bukan berarti lantas mematahkan langkah dan menghambat tujuan. Justru kita harus berhenti sejenak untuk mengisi kekuatan kita dan melihat apa saja yang telah kita lakukan. Karena kita adalah manusia, bukan batu karang yang tetap berdiri meski diterjang ombak. Karena kita adalah manusia, bukan gunung tinggi yang tetap kokoh meski diterpa angin kencang.

Thursday, August 18, 2005

[^] Mengucap Insya Allah

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali dengan menyebut “Insya Allah” (QS al-Kahfi: 23-24).

Meskipun banyak orang merasa lega dengan ditandatanganinya kesepakatan damai antara Pemerintah RI dan GAM di Helsinki, namun terwujudnya suasana damai setelah itu tidak bisa dikatakan pasti. Sebab, manusia sebagaimana dimahfumkan oleh Sang Pencipta, Allah SWT, tidak akan tahu pasti apa yang akan terjadi di masa depan. Karena keterbatasan pengetahuan itulah, yang agak tepat untuk dikatakan adalah: dengan penandatanganan kesepakatan damai itu, insya Allah akan terwujud perdamaian antara kita di masa selanjutnya.

Pembubuhan kata “insya Allah” harus selalu diupayakan dalam setiap pekerjaan manusia. Sebab, manusia hanya diwajibkan berusaha sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, selanjutnya adalah urusan Allah. Ketika dibubuhi dengan kata “Insya Allah” yang berarti kalau Allah menghendaki, maka dengan sendirinya perjanjian damai itu akan bermakna akan terjadi kalau Allah menghendaki. Bisa jadi, dan sering terjadi dalam kenyataan, apa yang telah diupayakan manusia dengan seyakin-yakinnya akan tercapai sebagaimana yang diharapkan belakangan tidak demikian, mungkin karena sesuatu hal di luar dugaan kita.

Adanya dugaan ini bukan bermaksud untuk memperkecil harapan dari usaha besar manusia tersebut, tetapi lebih untuk menunjukkan kerendahan hati kita sebagai hamba-hambaNya yang dhaif sekaligus menunjukkan pengakuan kita terhadap ke-MahaKuasa-an Allah terhadap segala sesuatu, termasuk terhadap usaha kita itu.

Lagipula, Allah menghendaki kita sebagai hamba-hambaNya untuk berlaku demikian, sebagaimana peringatanNya terhadap Rasulullah SAW dalam ayat di atas. Insya Allah, cita-cita damai kita tercapai.