Search This Blog

Friday, June 29, 2007

[+] Binatang Ternak

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku” (QS. Al-‘Araf: 146).

Meskipun berderajat tinggi, manusia disebut juga binatang ternak, dalam al-Qur‘an. Sebutan untuk makhluk berderajat rendah ini khusus diberikan kepada orang-orang yang tidak menempatkan dirinya sebagai manusia yang selayaknya.

Tetapi menempatkan dirinya sederajat dengan level binatang, yang tak berperasaan dan tak tahu aturan hidup. Makhluk yang tak berperasaan itu adalah yang tak berfungsi lagi tali-tali rasanya, seperti hati. Matinya tali rasa hati menyebabkannya tak mampu memahami anjuran-anjuran Allah, seperti anjuran untuk tidak berlaku sombong. Sebab kesombongan hanyalah milik Sang Khalik.

Matinya tali rasa hati juga mematikan pandangan. Sehingga apapun kekuasaan Allah yang terhampar luas dalam pandangan matanya, tak memberi pengaruh baik bagi dirinya sedikit pun, seperti timbulnya pengakuan diri sebagai hamba dhaif yang tak layak menyombongkan diri. Matinya tali rasa juga mematikan pendengaran. Sehingga apa-apa yang didengar tentang larangan Allah tak mampu memberi pengaruh baik pada perilakunya. Sehingga kesombongan, misalnya, akan berlangsung terus pada dirinya.

Memang demikian manusia pada level binatang ternak. Mereka sudah dipalingkan dari kebeneran. Juga Allah menyebut orang-orang seperti itu telah lalai (QS. Al-‘Araf: 179). Sehingga ada yang lalai atau terbuai dengan jabatannya. Cirinya, bila jabatannya menambah kesombongannya.

Friday, March 23, 2007

[+] Kesulitan

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyrah: 5–6).

Kesulitan tidak jarang bermakna kesempatan untuk proses pembelajaran bagi hamba-hamba Allah yang berpikir. Sebab, kesulitan seringkali membuka cakrawala berpikir dan memaksakan otak untuk menemukan sesuatu yang belum ada, sebagai jalan keluar dari kesulitan. Lebih-lebih manusia ditakdirkan akal. Allah juga sering mempertanyakan dalam al-Qur‘an tentang apakah hamba-hambaNya tidak menggunakan akalnya.

Bagi manusia yang menggunakan akalnya, beriman, dan bertawakkal, akan selalu mendapatkan jalan keluar dalam hidupnya. Kesempitan hidup seringkali berubah menjadi kesempatan untuk menyambut kehidupan. Bahkan ada jalan keluar pada waktu yang tidak disangka-sangka. Memang demikian janji Allah bagi hamba-hamba- Nya yang senantiasa beriman dan memaknakan pertanyaan-Nya dalam al-qur‘an. Memang kita sepatutnya tidak perlu ragu dengan janji Allah. Bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan akan ada kemenangan, kebahagiaan dan sejenisnya adalah janji yang pasti.

Persyaratannya adalah usaha yang tulus lewat berpikir dan bekerja. Namun mengapa terkadang janji itu tidak begitu saja terwujud pada seseorang hamba? Bisa jadi karena seseorang tidak secara konsisten dan sabar dalam menggunakan akalnya, beribadah, dan bertawakkal. Penyebab lain adalah karena Allah masih menguji ketahanan iman seseorang sampai pada tahap tertentu.

Di tengah proses pengujian mencapai tahap itulah, kadangkala orang berubah haluan dari jalur kesabarannya, sehingga ia berputus asa. Putus asa adalah wujud dari ketidaklurusan dalam berpikir.

Wednesday, March 21, 2007

Ahlan wa Sahlan :)

afwan baru bisa mulai posting lagi :)

[+] Keikhlasan

Keikhlasan

“Ya Allah, bila hamba ini beribadat karena mengharapkan surga-Mu, maka haramkan lah dari syurga-Mu. Dan bila hamba-Mu ini beribadat ini karena takut akan neraka-Mu, maka masukkanlah hamba ke dalam neraka-Mu” (Doa Rabi‘ah al-Adawiyah) .

Negeri Irak yang sedang berkecamuk perang sekarang ini suatu ketika pernah menjadi tempat dimana kebanyakan orang lupa kepada Allah dan mauk dengan dunianya. Namun berkat rahmat Allah, ada segelintir orang yang diselamatkan dari hal demikian, antara lain Rabiah Adawiyah. Menurut suatu riwayat, selamatnya wanita itu di antaranya karena keikhlasannya beribadah kepada Allah. Di waktu larut malam, di saat orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, Rabi‘ah senantiasa menyempatkan diri untuk mengadu kepada Allah. Dengan linangan air mata, beliau bermunajat dan mengucapkan terimakasih kepada Allah atas hidayah-Nya.

Dalam salah satu doanya, beliau mengatakan bahwa kecintaannya kepada Allah samasekali bukan mengharapkan surga-Nya atau takut neraka-Nya. Hal demikian selalu dipertahankannya sampai hembusan nafas terakhir. Kisah itu bermakna bahwa ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal, mendapat hidayah Allah, dan menyebabkan manusia selamat dunia dan akhirat. Beribadah yang banyak, tetapi tidak ikhlas itu sulit untuk meraih hal-hal demikian. Singkatnya, ibadah yang diterima hanyalah yang disertai keikhlasan semata-mata kepada Allah, dengan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu yang lain.

Di zaman banyak orang menjadi hamba materi seperti sekarang ini, hal demikian dirasakan sulit. Kebanyakan manusia berbuat sesuatu kalau ada materi yang diharapkan di balik perbuatannya, terutama hal-hal keduniaan seperti uang, pangkat, dan berbagai harta kekayaan dunia lainnya. Sehingga orang-orang yang tidak ikhlas bekerja seringkali melakukan hal-hal yang buruk, seperti menyunat hak-hak orang lain yang ada di tangannya. Kalau tidak segera bertaubat, kebiasaan semacam ini akan berlanjut hingga nafas penghabisan.